Slider

Rabu, 04 September 2013

Review THE BANG-BANG CLUB


                Pekerjaan sebagai jurnalis Foto memang tidak mudah. Terkadang mereka harus memotret sesuatu yang mungkin menjadi fobia mereka. Misalnya ketika melihat darah karena tak jarang sebagian jurnalis foto memiliki fobia tersebut. Terkadang mereka harus melawan fobia mereka ketika mereka dihadapkan dengan situasi dimana mereka harus memotret korban tabrakan yang tubuhnya hancur. Tapi bukan fobia yang dimiliki oleh jurnalis foto yang diangkat oleh film ini. Melainkan keberanian mereka untuk mempublikasikan sebuah foto akibat perang saudara di Afrika Selatan yang merenggut banyak nyawa dan berusaha untuk menyampaikan situasi yang terjadi kepada masyarakat dunia. Inilah The BANG-BANG CLUB.

                Film yang dirilis pada tahun 2010 lalu ini menceritakan tentang empat orang jurnalis foto yang yang meliput wilayah konflik perang saudara di Afrika Selatan.  Mereka adalah  Greg Marinovich (Ryan Phillipe), Joao Silva (Neels Van Jaarsveld), Kevin Carter (Taylor Kitsch), dan Ken Oestebroek (Frank Rautenbach).

                Awal perkenalan Greg dan Kevin saat keduanya bertemu secara tidak sengaja ketika perang saudara sedang terjadi. Keduanya memotret korban yang teah berlumuran darah pada saat perang di hostel. Pertemuannya dengan Kevin tidak sampai disitu saja. Pada saat Greg datang ke kantor sebuah majalah mencari Robin Comley, seorang foto editor untuk mempublikasikan  fotonya, Greg menemukan Kevin yang ternyata bekerja di kantor majalah tersebut yang juga sedang memberikan hasil fotonya kepada foto editor.

                Tidak disangka, foto hasil karyanya membawa Greg bergabung dengan Kevin dan kedua orang lainnya sesama jurnalis foto, Ken dan Joao, untuk meliput perang saudara yang sedang terjadi kala itu.

                Tidak mudah bagi Greg untuk dapat diterima oleh Ken dan Joao mengingat dirinya masih seorang jurnalis foto pemula. Namun tidak dihiraukan oleh Greg. Dia berusaha untuk masuk ke daerah-daerah konflik yang dianggap tidak aman  dan mendapatkan berbagai foto dalam konflik tersebut yang pada akhirnya salah satu fotonya meraih penghargaan Pulitzer – sebuah penghargaan tahunan untuk bidang jurnalisme, sastra dan komposisi musical yang di beri judul  'Zulu Spy 1992' (supporters SAANC burning alive a man)

            Tidak hanya Greg, Kevin pun meraih penghargaan Pulitzer dengan hasil jepretannya yang berjudul 'Bearing Witness 1994' dimana foto tersebut memperihatkan keadaan dimana burung bangkai yang kelaparan sedang menunggu kematian seorang anak kecil didepannya mati dan akhirnya di makan.



            Dari foto-foto mereka, masyarakat dunia tahu tentang apa yang sedang terjadi di Afrika Selatan. Memang tidak sedikit orang yang memprotes hasil jepretan mereka karena dinilai terlalu blak-blakan, mereka hanya memiliki satu niat yaitu Masyarakat dunia harus tahu bagaimana keadaan di Afrika Selatan pada saat perang saudara itu terjadi. Foto-foto mereka benar-benar menyampaikan pesan yang sangat mendalam kepada orang yang melihatnya.

           Di dalam film ini kita bisa lihat bagaimana mereka para Jurnalis berusaha mendapatkan sebuah gambar yang nantinya menyampaikan sebuah pesan dari foto itu sendiri. perjuangan mereka juga tidak mudah untuk mendapatkan itu semua. Meskipun nyawa mereka sebagai taruhannya. Tapi itulah Jurnalis.
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog Designed by The Single Momoirs